Panu

Pemahaman PV

Penyakit kulit panu atau tinea versicolor atau pitiriasis versikolor (PV) adalah infeksi jamur superfisial yang umum dan terjadi pada lapisan epidermis. Gejala panu dapat terlihat jelas dengan munculnya bintik-bintik kecil berwarna coklat atau putih (adanya perubahan warna) pada kulit tubuh, merupakan akibat dari perkembangbiakan abnormal jamur kulit yang biasanya tidak berbahaya ini. PV cenderung berkembang biak di musim panas dan berkurang di musim dingin, dimana remaja serta orang dewasa yang masih muda akan lebih sering terinfeksi. Untuk mengobatinya, dapat menggunakan salep atau gel antijamur.

Belum ada data yang menyebutkan mortalitas atau morbiditas pada penderita panu. Prevalensi nasional panu di Indonesia sekitar 2-8% dari seluruh populasi (Koran Indonesia Sehat, 2009). Data Profil Kesehatan Indonesia 2010, menunjukkan bahwa penyakit kulit dan jaringan subkutan menjadi peringkat ke 3 dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit se-Indonesia berdasarkan jumlah kunjungan yaitu sebanyak 192.414 kunjungan, dimana 122.076 kunjungan diantaranya merupakan kasus baru. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit kulit masih sangat dominan terjadi di Indonesia.

Diagnosa panu

Penyebab, penyebaran dan komplikasinya

Kondisi kulit yang umum dan jinak ini merupakan hasil perkembangbiakan jamur dari kelompok ragi genus malassezia (pityrosporum). Jamur ini biasanya hidup di permukaan kulit, berkembang biak dengan cepat dan menyebabkan bintik-bintik kecil berwarna coklat atau putih (perubahan warna) pada kulit. Faktor eksogen berkembangnya panu, lingkungan hunian yang padat, kebersihan (hygiene) yang kurang, dan di negara tropis atau sub-tropis. Jamur ini memanifestasikan dirinya terutama pada iklim panas dan kelembaban yang tinggi, dimana tingkat keasam keringat akan mempengaruhi pH kulit.

Faktor endogen, di antaranya:

  • Genetika 
  • Malnutrisi 
  • Kehamilan
  • Pemakaian steroid jangka panjang 
  • Menderita penyakit-penyakit berat, seperti diabetes mellitus
  • Hiperhidrosis, produksi keringat berlebihan dapat menjadi fasilotator pertumbuhan jamur
  • Imunodefisiensi, menurunnya imun tubuh
  • Sindrom cushing atau hiperkortisol, yaitu gejala-gejala yang muncul karena paparan tingkat kortisol (kadar hormon kortisol) yang terlalu tinggi di tubuh dalam jangka waktu panjang.

Penularan infeksi jamur kulit disebarkan oleh spora ataupun bagian jamur yang didapatkan melalui kontak langsung, maupun tidak langsung dengan kulit penderita. Misalnya dibawa ketika berbagi peralatan pribadi.

Tetapi penyakit ini juga bisa mendapatkan keuntungan dari penurunan sistem kekebalan, yang disebabkan oleh pengobatan atau penyakit. Berbagai komplikasi penyakit dapat muncul sebagai akibat dari imun tubuh yang lemah, selain itu faktor psikologis juga akan terpengaruh karena rasa malu yang muncul akibat menderita panu. Faktor psikoligis tersebut, seperti stres atau bahkan depresi.

Diagnosa panu

Seperti pada umumnya setiap pemeriksaan akan dilakukan oleh dokter dengan menanyakan riwayat kesehatan (baik individu maupun keluarga), menanyakan gejala dan melakukan pemeriksaan fisik (pemeriksaan area genital dan palpasi ringan pada bagian perut). Apabila diperlukan maka dokter juga akan melakukan tes tambahan.

Tes tambahan yang dapat dilakukan berupa lampu wood yang menghasilkan sinar ultraviolet 360 nm (sinar “hitam”), tes ini akan menyebabkan fluoresensi kuning pucat di area kulit yang terkena sinar. Jika perlukan, identifikasi jamur mungkin memerlukan pemeriksaan mikologis dengan mengerok kulit. Sampel ini akan diberikan ke laboratorium khusus yang dapat memeriksanya di bawah mikroskop dan membudidayakannya.

Mengobati tinea versicolor

Ada 2 cara medis pengobatan, yaitu secara topikal dan secara sistematik.

Pengobatan topikal 

Pengobatan panu topikal harus dilakukan secara menyeluruh, intens dan konsisten. Contoh obat-obatan yang dapat digunakan, ialah; 

  • Bedak kocok yang mengandung 4-20% sulfur presipitatum
  • Kream atau gel sodium thiosulfate solution 30%, dioleskan sehari 2 kali sehabis mandi selama 2 minggu
  • Shampo yang mengandung 2,5% selenium sulfida. Gosok dan diamkan selama 10-20 menit  pada lesi, gunakan 2-3 kali seminggu
  • Azol, obat anti fungi spectrum luas yang dapat menghambat sintesis ergoslerol pembentuk dinding sel jamur (misalnya mikonazol, klotrimazol, isokonazol dan ekonazol dalam bentuk topikal). Digunakan selama 2-6 minggu, 2 kali sehari pada area yang terinfeksi.  

Pengohatan sistemik

Pengobatan sistemik diberikan pada kasus pitiriasis versikolor yang luas atau jika pemakaian obat topikal tidak berhasil. Obat yang dapat diberikan, adalah:

  • Ketokonazol 200 mg/hari selama 10 hari
  • Itrakonazol 200 mg/hari selama 5-7 hari, diberikan untuk kasus kambuhan atau ketika penderita tidak responsif dengan terapi lainnya.

Mencegah tinea versicolor

Panu memiliki kecenderungan untuk terjadi kembali (kambuh). Beberapa tindakan sederhana ini dapat membantu untuk menghindarinya, diantaranya:

  • Disinfeksi sepatu dengan produk yang sesuai
  • Biasakan mencuci tangan dengan benar dan dengan menggunakan sabun
  • Ganti sepatu setiap hari untuk memberikan waktu keluarnya keringat pada sepatu
  • Handuk harus untuk penggunaan pribadi dan diganti setiap minggu (cuci pada suhu 90°C)
  • Setelah mandi, pastikan untuk menyeka bagian di sela-sela jari kaki dan lipatan-lipatan dengan handuk kering. 
  • Kenakan sepatu dan kaus kaki yang sesuai untuk menghindari kaki berkeringat. Pilih kaus kaki yang terbuat dari bahan alami seperti katun.

Referensi:

  1. Responsitory.um-palembang.ac.id: Angka Kejadian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Pitiriasis Versikolor Pada Santri Pondok Pesantren Ar-Riyadh 13 Ulu Plaju Palembang: (http://repository.um-palembang.ac.id/id/eprint/1425/1/SKRIPSI1225-1712163602.pdf)
  2. Vivahealth.co.id: Panu: (https://vivahealth.co.id/article/detail/2034/panu)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *