HIV dan AIDS

Penjelasan 

HIV dan AIDS memang saling terkait, tetapi mereka tidak sama. Pengertian dan perbedaannya akan dibahas lebih terperinci pada artikel ini.

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dan  sel CD4 (jenis sel kekebalan yang disebut sel T). Imunitas yang menurun dapat menyebabkan tubuh menjadi rentan terjangkit berbagai jenis infeksi dan beberapa jenis kanker. Odha merupakan sebutan untuk orang yang menderita HIV.

HIV  tidak menyebar di udara atau air, atau melalui kontak biasa, melainkan ditularkan melalui cairan tubuh yang meliputi: darah, air mani, cairan vagina dan dubur, ASI. Hingga saat ini belum ditemukan obat HIV tetapi dapat dikendalikan. Tanpa tindakan pengendalian, HIV dapat bertahan hingga satu dekade sebelum berkembang menjadi AIDS. Sebaliknya, dengan perawatan medis HIV dapat dikontrol dengan baik dan dapat memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan seseorang yang belum tertular HIV. 

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), merupakan kondisi yang disebabkan oleh infeksi HIV stadium akhir, dimana pada penderita dewasa umumnya hanya memiliki jumlah CD4 kurang dari 200 (jumlah normal pada orang dewasa adalah 500 hingga 1.500 per milimeter kubik). 

Sistem imun yang menurun menyebabkan penderitanya dapat mengalami berbagai jenis infeksi oportunistik atau kanker, sehingga penderitanya memiliki harapan untuk tetap hidup hanya sekitar 3 tahun lagi. Namun, pengobatan dengan obat antiretroviral dapat mencegah AIDS berkembang.

Menurut data Kementerian Kesehatan Indonesia, jumlah penderita HIV dari tahun 1987 hingga Sep 2014, kasus HIV sebanyak 150.296 dan kasus AIDS sebanyak 55.799 orang. Data di Kementrian Kesehatan Indonesia juga menunjukan bahwa transmisi HIV lebih banyak terjadi pada laki-laki, heteroseksual dan pada usia 25-49 tahun. Sedangkan kasus AIDS lebih banyak terjadi pada kelompok laki-laki, Ibu rumah tangga, heteroseksual, dan usia 19-20 tahun.

HIV

HIV

Cara penyebaran 

Seperti yang sudah diterangkan sebelumnya. HIV tidak menyebar di udara atau air, atau melalui kontak biasa (seperti: berjabat tangan dan keringat), melainkan ditularkan melalui cairan tubuh yang meliputi: darah, air mani, cairan vagina dan dubur, ASI.

Beberapa cara dibawah ini dapat menyebabkan penularan HIV, antara lain:

  • Saat menyusui
  • Transfusi darah atau transplantasi organ dan jaringan
  • Berbagi atau menggunakan alat kesehatan yang tidak steril (termasuk peralatan tato)
  • Melalui proses kehamilan, persalinan, atau persalinan dari seorang wanita ke bayinya
  • Ketika seseorang mengunyah makanan bayi sebelum memberinya makan (pra-pengunyahan)
  • Digigit oleh orang dengan HIV (hanya jika air liur berdarah atau ada luka terbuka di mulut orang itu)
  • Kontak langsung antara kulit yang rusak, luka, atau selaput lendir dan darah seseorang yang hidup dengan HIV
  • Melalui hubungan seks vaginal atau anal dan seks oral (jika terdapat gusi yang berdarah atau luka terbuka di mulut orang tersebut)

AIDS disebabkan oleh HIV, seseorang tidak dapat tertular AIDS jika mereka tidak tertular HIV. Ketika infeksi oportunistik yang terkait dengan HIV sedang dalam proses pengembangan, seorang odha masih dapat didiagnosis dengan AIDS, walaupun jumlah CD4 mereka di atas 200.

Gejala HIV dan AIDS

Gejala HIV dan AIDS

Gejala HIV dan AIDS

Gejala HIV dan AIDS dapat berbeda-beda, tergantung fase infeksi dan kondisi tubuh seseorang. Gejala-gejala dan fase-fase tersebut, antara lain:

HIV akut atau infeksi primer

Tahapan ini umumnya terjadi antara 2-4 minggu setelah terinfeksi HIV, beberapa orang bahkan tidak menunjukan gejala awal. Selama periode ini jumlah HIV yang ditemukan dalam aliran darah (viral load) akan tinggi, ini berarti bahwa HIV dapat dengan mudah ditularkan ke orang lain selama periode ini.

Gejalanya meliputi:

  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Demam
  • Kelelahan
  • Panas dingin
  • Sakit perut
  • Herpes zoster
  • Sakit tenggorokan
  • Radang paru-paru
  • Sakit atau nyeri kepala
  • Infeksi ragi oral atau vagina 
  • Badan terasa sakit dan nyeri 
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Mengalami perubahan warna pada kulit, seperti timbulnya ruam

Gejala HIV awal biasanya sembuh dalam beberapa bulan ketika orang memasuki tahap laten kronis, atau klinis. Tahap ini dapat bertahan bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun dengan melakukan perawatan.

Infeksi klinis laten (HIV Kronis, HIV inaktif atau dorman)

Setelah sekitar 1 bulan pertama, HIV memasuki tahap latensi klinis. Beberapa orang tidak menunjukkan gejala apapun (infeksi HIV asimtomatis), sementara yang lain mungkin memiliki gejala minimal atau tidak spesifik (gejala yang tidak berkaitan dengan satu penyakit atau kondisi tertentu) seperti pembengkakan pada kelenjar getah bening.

HIV kronis dapat bertahan selama beberapa dekade dan kemungkinan tidak akan berkembang menjadi AIDS, jika pengobatan dimulai sedari dini.

AIDS

Pada tahap ini, penderita dapat mengalami berbagai infeksi secara berulang. Gejala HIV juga dapat datang dan pergi, atau mereka dapat berkembang dengan cepat. Perkembangan ini dapat diperlambat secara substansial dengan pengobatan, seperti dengan melakukan terapi antiretroviral yang konsisten. 

Gejala-gejala AIDS dapat meliputi:

  • Lemas
  • Sesak nafas
  • Demam berulang
  • Diare kronis atau berulang
  • Berkeringat pada malam hari
  • Benjolan, lesi, atau ruam kulit
  • Kelelahan kronis atau berulang
  • Emosional, kecemasan dan depresi
  • Penurunan berat badan yang cepat tanpa sebab yang jelas
  • Terdapat luka, bintik-bintik, atau lesi pada mulut dan lidah, alat kelamin, atau anus
  • Munculnya bercak-bercak gelap di bawah kulit atau di dalam mulut, hidung, atau kelopak mata
  • Munculnya kelenjar getah bening yang membengkak kronis, terutama dari ketiak, leher, dan selangkangan
  • Adanya masalah neurologis seperti kesulitan berkonsentrasi, kehilangan ingatan, dan kebingungan.
Infeksi klinis laten

Infeksi klinis laten

Komplikasi

Beberapa jenis penyakit kronis dapat terjadi akibat menurunnya imunitas tubuh. Antara lain: 

  • TBC
  • Radang paru-paru
  • Cytomegalovirus (CMV), sejenis virus herpes
  • Infeksi jamur di otak (meningitis kriptokokus)
  • Infeksi jamur di mulut atau tenggorokan (oral thrush)
  • Infeksi otak yang disebabkan oleh parasit (toksoplasmosis)
  • Infeksi yang disebabkan oleh parasit usus (cryptosporidiosis)
  • Kanker, termasuk sarkoma Kaposi (KS) dan limfoma

Perempuan dengan HIV berisiko lebih tinggi untuk terjangkit:

  • Infeksi ragi vagina berulang
  • Perubahan siklus menstruasi
  • Penyakit radang panggul (PID)
  • Infeksi vagina lainnya, termasuk vaginosis bakteri
  • Human papillomavirus (HPV), yang dapat menyebabkan kutil kelamin dan menyebabkan kanker serviks

Diagnosa

Seperti pada umumnya setiap diagnosa akan dimulai oleh dokter dengan menanyakan riwayat kesehatan, dan pemeriksaan fisik. 

Tindakan lanjutan 

Tindakan lanjutan mungkin juga akan dilakukan oleh dokter dengan melakukan beberapa tes, seperti:

Tes antibodi/antigen 

Tes ini paling umum digunakan dan dilakukan dengan cara melakukan tes darah serta melakukan mouth swabs, bertujuan untuk mengetahui adanya antibodi dan antigen (virus yang mengaktifkan sistem kekebalan tubuh). Hasil positif biasanya muncul dalam 18–45 hari setelah seseorang awalnya tertular HIV, sehingga meskipun hasilnya negatif, perlu dilakukan pemeriksaan ulang.

Uji Asam Nukleat (NAT) 

Tes NAT dilakukan pada seseorang yang memiliki gejala awal HIV untuk mendeteksi keberadaan HIV, biasanya juga disertai atau dikonfirmasi oleh tes antibodi. Tes ini mahal, sehingga  hanya dilakukan untuk orang-orang yang memiliki gejala awal HIV atau memiliki faktor risiko yang diketahui

Tes resistensi obat 

Tes ini dapat membantu dokter dalam menentukan tipe terapi yang tepat

Tes penghitungan sel CD4

Jumlah normal CD4 adalah 500-1400 sel per milimeter kubik darah. Pada seseorang yang terkena HIV, akan terjadi penurunan jumlah CD4 mencapai dibawah 200 sel per milimeter kubik darah.

Pemeriksaan viral load (HIV RNA) atau beban virus 

Pemeriksaan ini menunjukkan perkembangan virus. Apabila jumlahnya di bawah 10.000 berarti perkembangan virus tidak terlalu cepat, jika diatas 100.000 berarti proses menggandakan diri virus sangat aktif (hal ini dapat terjadi pada kondisi yang tidak tertangani dengan cepat)

Diagnosa HIV

Diagnosa HIV

Pengobatan 

Pengobatan dapat dilakukan dengan cara medis maupun dengan non medis:

Non medis

Pengobatan atau perawatan secara non medis sangat dibutuhkan oleh seorang odha atau penderita AIDS, seperti tindakan penerimaan dan pemberian dukungan dari orang-orang disekitarnya. Hal-hal lain yang juga dapat dilakukan oleh seorang odha dan orang-orang disekitarnya adalah:

  • Hindari tembakau dan narkoba
  • Laporkan setiap gejala baru yang muncul
  • Fokus pada kesehatan emosional mereka 

Apabila dirasa perlukan, maka dapat berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater

  • Lakukan seks yang lebih aman (kondom)
  • Kelilingi odha dengan orang-orang terkasih

Seorang odha dapat mulai memberi tahu kondisinya pada seseorang yang dapat dipercaya, tidak akan menghakimi, dan yang akan mendukung dalam menjaga kesehatan mereka

  • Dapatkan dukungan

Odha dapat bergabung dengan kelompok yang memberi dukungan HIV, sehingga mereka dapat bertemu dengan orang lain yang menghadapi masalah yang sama dengan yang mereka miliki.

Medis

Belum ditemukan obat untuk HIV dan AIDS, tetapi dapat dikendalikan. Pengobatan harus dimulai sesegera mungkin setelah terdiagnosis HIV, pengobatan utama untuk HIV adalah terapi antiretroviral (kombinasi dari obat harian yang menghentikan virus untuk bereproduksi). Orang dengan HIV sering memiliki masa hidup hampir normal dengan pengobatan dini dengan terapi antiretroviral.

Terapi antiretroviral

Terapi antiretroviral dapat mengendalikan virus yang berkembang sehingga dapat mencegah HIV berkembang menjadi AIDS dan membantu mengurangi risiko penularan HIV ke orang lain. Pengendalian virus dengan terapi antiretroviral, dilakukan dengan melindungi sel CD4 sehingga sistem kekebalan cukup kuat untuk melawan penyakit.

Ketika pengobatan efektif, viral load akan “tidak terdeteksi” (jumlah CD4 meningkat ke jumlah normal). Orang tersebut masih memiliki HIV, tetapi virus tidak terlihat dalam hasil tes. Namun, virus masih ada di dalam tubuh. Dan jika orang itu berhenti memakai terapi antiretroviral, viral load akan meningkat lagi dan HIV dapat kembali menyerang sel CD4.

Obat-obatan

Dokter akan tetap memantau jumlah virus dan sel CD4 pada tubuh pasien setiap 3-6 bulan. Obat anti virus harus selalu diminum setiap hari untuk menekan perkembangan virus. Pengobatan lain dapat dibutuhkan untuk mengatasi penyakit infeksi lain yang dialami oleh orang dengan HIV/AIDS (odha).

Beberapa jenis obat yang digunakan dalam terapi antiretroviral (ARV) dan dapat mengurangi atau menghambat berkembangnya HIV, antara lain:

  • Protease inhibitor (PI) seperti nelfinavir
  • Fusion inhibitors seperti enfuvirtide untuk mencegah HIV masuk dalam sel kekebalan tubuh
  • Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI), seperti efavirenz dan nevirapine
  • Nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTIs), seperti zidofudine, lamivudine, abacavir
  • Integrase Inhibitor seperti raltegravir untuk mengurangi jumlah virus HIV dalam tubuh hingga ke tingkat yang tidak lagi dapat terdeteksi dengan tes darah.

Efek samping dari terapi antiretroviral dapat berbeda-beda pada setiap orang, tetapi pada umumnya gejala atau penyakit yang terjadi, termasuk: mulut kering, diare, mual, muntah, lemas, sulit tidur, tulang menjadi rapuh, sakit kepala, dan pusing. Gejala-gejala ini seringkali bersifat sementara dan menghilang seiring waktu. Efek samping yang lebih serius dapat meliputi pembengkakan mulut dan lidah dan kerusakan hati atau ginjal.

Pencegahan HIV dan AIDS

Saat ini belum ada vaksin untuk mencegah HIV atau AIDS, namun cara-cara berikut dapat membantu untuk mencegah penularan HIV, seperti:

  • Setia pada pasangan 
  • Gunakan alat-alat kesehatan yang steril
  • Hindari berbagi jarum suntik dengan orang lain
  • Lakukan hubungan seks yang aman dengan menggunakan kondom
  • Lakukan pemeriksaan infeksi menular seksual (IMS).

IMS dapat meningkatkan risiko tertular HIV

  • Lakukan tes HIV 

Untuk mengetahui status virus yang ada dalam tubuh bagi yang berisiko tinggi seperti pada pekerja seks, pengguna narkoba, atau tenaga medis

  • Konsumsi obat secara konsisten sesuai arahan dokter apabila memiliki atau berisiko tertular HIV

Contohnya konsumsi obat PEP (post-exposure prophylaxis) dan Obat PrEP (pre-exposure prophylaxis).

Referensi

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. 03.08.2020

    […] Sangat penting bagi penderita sipilis untuk memberitahu pasangan seksnya, karena mereka juga perlu menjalani tes. Penderita sipilis mungkin juga perlu menjalani tes terhadap penyakit menular seksual lainnya, terutama HIV. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *