Gastroenteritis (Muntaber)

Pemahaman gastroenteritis 

Ada banyak nama lain untuk gastroenteritis, yaitu gastro, stomach bug, stomach virus, flu perut, flu lambung dan yang paling kita sering dengar adalah muntaber. Gastroenteritis adalah peradangan (itis) pada saluran pencernaan yang melibatkan lambung (gastro) dan usus kecil (entero), disebabkan oleh virus dan bakteri (seperti salmonella dan campylobacter). Beberapa penyakit infeksi perut (GA) dikaitkan dengan gastroenteritis, seperti gastritis yaitu peradangan yang menyerang lambung, enteritis yaitu peradangan pada usus halus dan gastrointestinal yaitu pendarahan pada saluran pencernaan. Komplikasinya dapat berupa dehidrasi parah sebagai akibat dari diare yang terjadi secara terus menerus dan gastroenteritis akut (GEA), yaitu suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan erosi pada bagian superfisial.

Pada kebanyakan orang kondisi ini menyebabkan diare, muntah selama 2-3 hari, sakit kepala, nyeri tubuh, demam dan kelelahan. Umumnya gastroenteritis terjadi di musim dingin (hujan), menyerang lansia (diatas umur 75 tahun) dan anak-anak (dibawah umur 5 tahun). Gastroenteritis pada anak, harus segera dikonsultasikan dengan dokter. Pengobatan pertama dapat dilakukan dengan pemberian oralit. Anak harus terus diawasi, ukur suhu tubuhnya, hitung kotorannya dan muntah,dan pastikan anak tidak kehilangan terlalu banyak berat badan.  

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare yang terjadi terjadi pada tahun 2017 tercatat sebanyak 21 kali dengan jumlah penderita 1725 orang dan kematian sebanyak 34 orang (CFR 1,97%). Angka prevalensi secara nasional di tahun 2018 mencapai 12,3%, angka ini turun menjadi 4,5% di tahun 2019. 

Gastroenteritis

Penyebab dan penyebaran gastroenteritis

Penyebab utama gastroenteritis adalah virus atau bakteri, seperti salmonella dan campylobacter. Gastroenteritis menyebar (menular) dengan cepat pada suatu komunitas, melalui: 

  • Kontak langsung antara pasien dan orang lain yang terinfeksi
  • Makanan atau meminum air yang telah terkontaminasi oleh orang yang sakit
  • Kontak dengan benda-benda yang terkena partikel halus tinja dari orang yang sakit.

Gejala dan komplikasi gastroenteritis 

Masa inkubasi penyakit gastroenteritis berlangsung antara 24-72 jam dari awal terinfeksi. Gejala utamanya adalah munculnya tanda – tanda invasi bakteri. Tanda-tanda tersebut dan gejala lainnya, antara lain:

  • Mual 
  • Muntah
  • Kram perut 
  • Demam ringan 
  • Terdapat darah di feses
  • Diare akut mendadak, yang ditandai dengan frekuensi BAB yang tinggi (minimal 3 kali kali buang air besar dalam waktu 24 jam) dan konsistensi feses yang lunak atau berair.

Sedangkan komplikasi yang dapat terjadi sebagai akibat dari gastroenteritis, diantaranya:

  • Kejang-kejang
  • Gangguan pernapasan 
  • Kekurangan gizi dan cairan

Pemeriksaan dan pengobatan gastroenteritis

Seperti pada umumnya setiap pemeriksaan akan dilakukan oleh dokter dengan menanyakan riwayat kesehatan (baik individu maupun keluarga), menanyakan gejala dan melakukan pemeriksaan fisik.

Untuk mengatasi gastroenteritis, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan baik secara medis (obat-obatan) maupun dengan cara non medis (pola hidup dan konsumsi bahan-bahan alami atau herbal).

Medis

Obat-obatan tertentu dapat mengurangi durasi dan intensitas diare, serta pada saat yang sama membantu meredakan gejala gastroenteritis. Ada 2 jenis obat gastroenteritis yang dapat digunakan, yaitu:

Retarder transit usus 

Obat ini berfungsi untuk menurunkan kontraksi usus dan mengurangi jumlah serta frekuensi buang air besar. Obat yang paling banyak digunakan adalah loperamide dan racecadotril (Tiorfan). Kecuali dengan izin dokter, obat penghambat transit ini tidak boleh dikonsumsi dalam kasus kolitis ulserativa dan ileokolitis.

Adsorben atau pelindung usus 

Obat ini dapat memberikan efek secara lokal di usus dengan mekanisme khusus, seperti mengurangi gas. Penggunaan obat-obatan ini tidak boleh dicampurkan dengan obat-obatan jenis lainnya, obat yang banyak digunakan adalah diosmektit (Smecta), arang aktif atau attapulgite. Penderita kasus stenosis usus (penyempitan) atau pelebaran usus besar, atau pada orang yang terbaring di tempat tidur (aktivitas fisik yang berkurang), tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi obat jenis ini.

Demam, kejang dan nyeri

Terkadang obat antispasmodik seperti sublingual phospho glucinol (Spasfon Lyoc) atau analgesik seperti parasetamol dapat digunakan untuk meredakan gejala seperti demam, kejang dan nyeri.

Non medis

Perubahan pola hidup, akan sangat membantu mengurangi gejala gastroenteritis. Pola hidup tersebut, antara lain:

  • Lanjutkan pemberian asi atau susu formula
  • Konsumsi cairan rehidrasi oral (CRO) atau oralit
  • Hindari buah, sayuran mentah dan minuman dingin
  • Perbanyak minum air dalam jumlah kecil dan dengan frekuensi yang tinggi
  • Konsumsi makanan asin, tinggi gula dan bebas residu. Seperti pasta, nasi, wortel matang, dan kerupuk. 

Perawatan phytotherapy atau homeopati 

Homeopati dengan mengkonsumsi bahan-bahan alami atau herbal juga dapat digunakan dalam penyembuhan jangka pendek. Misalnya, teh herbal yang terbuat dari daun agrimony (Agrimonia eupatoria) atau beri kering blueberry untuk membersihkan usus atau infus jahe untuk melawan mual. Bahan alami lain yang dapat dikonsumsi, antara lain:

  • Air kelapa murni 1 kali sehari
  • 2 – 3 sendok makan air perasan buah sirsak
  • ⅓ gelas air rebusan kunyit, sebanyak 3 kali sehari
  • 1 sendok makan air sari dari daun jambu biji yang sudah dihaluskan dan ditambahkan sedikit garam

Menghindari gastroenteritis

Gastroenteritis ditularkan dari makan makanan dan minuman yang terkontaminasi, serta melalui kontak langsung dengan orang sakit. Jadi, untuk menghindari tertularnya bukanlah suatu misteri! Anda hanya perlu melakukan:

  • Pastikan kebersihan tangan dan permukaan benda
  • Biasakan cuci tangan dengan benar menggunakan sabun 
  • Jangan berbagi gelas air atau alat makan dengan orang lain
  • Seorang ibu harus mencuci tangannya sebelum menyentuh anak-anaknya
  • Penerapan aturan kebersihan yang ketat (terutama pada suatu komunitas), seperti mencuci tangan, memakai sarung tangan sekali pakai dan tidak membiarkan orang yang sakit untuk ikut berpartisipasi dalam menyiapkan makanan.

Referensi:

  1. RSUD Tangerang Kota: Diare (Gastroenteritis): (https://rsud.tangerangkota.go.id/a/diare-gastroenteritis)
  2. Sahabat Nestle: Meracik Sendiri Obat Tradisional Untuk Mengobati Diare Secara Alami: (https://www.sahabatnestle.co.id/content/gaya-hidup-sehat/inspirasi-kesehatan/meracik-sendiri-obat-tradisional-untuk-mengobati-diare-secara-alami.html).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *