Dermatitis Atopik

Pengertian 

Terkadang kita menyepelekan gejala berupa kulit yang memerah, rasa gatal, terkelupas, bersisik atau bengkak. Namun, sebenarnya kondisi ini merupakan gejala suatu penyakit yang dinamakan dermatitis atau eczema. Apabila gejala dermatitis tersebut sudah menjadi parah atau kronis, maka akan disebut sebagai dermatitis atopik (DA) atau eksim atopik (dermatitis kontak iritan), dimana gejalanya akan ditandai dengan kulit kering, memerah dan gatal. Gejala kronis ini dapat bertahan dalam jangka waktu lama, dan akan hilang timbul atau kambuhan. Semua orang dapat mengalami dermatitis atopik, tetapi kondisi ini lebih sering terjadi pada anak.

Dermatitis berarti kondisi kulit dan atopik berkaitan dengan penyakit yang disebabkan oleh reaksi alergi. Ini berarti dermatitis atopik berada dalam kelompok yang sama dengan demam dan asma, karena sama-sama dipicu oleh reaksi energi. Sehingga seseorang yang memiliki riwayat asma dan rinitis alergi, umumnya akan memiliki kondisi dermatitis atopik. Sayangnya belum ada penyembuhan untuk dermatitis atopik, tetapi gejala dan frekuensi kekambuhannya dapat dikurangi dengan perawatan yang tepat.

Dermatitis Atopik lebih banyak terjadi pada laki-laki karena onset penyakit yang lama (Avena-Woods, 2017). Menurut data yang diperoleh dari Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia PERDOSKI tahun 2014, prevalensi dermatitis atopik di Indonesia meningkat pada akhir dekade meliputi 10-20% pada bayi dan anak, sedangkan pada orang dewasa terdapat  peningkatan sebesar 1-3% dan pada tahun 2012 pasien dermatitis atopik berumur 13-14 tahun sebanyak 1,1%. 

apa itu Penyakit dermatitis atopik

Pemicu

Dermatitis atopik tidak menular, tetapi pemicu pastinya belum dapat diketahui. Kemungkinan besar dermatitis atopik disebabkan oleh reaksi alergi, kombinasi penyakit genetik dan faktor-faktor lain. Peradangan pada kulit, kulit kering dan sensitif terhadap infeksi merupakan akibat dari mutasi gen pada seseorang yang menderita dermatitis atopik dan memiliki beberapa penyakit genetik, gejalanya yang akan muncul seperti gatal, ruam, dan kulit menjadi kemerahan.

Faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya dermatitis atopik, diantaranya:

  • Debu
  • Stres
  • Lecet
  • Pasir
  • Asap
  • Tungau 
  • Keringat
  • Kotoran
  • Serbuk sari
  • Bulu hewan 
  • Wol dan kain sintetis
  • Sabun, deterjen, dan pembersih
  • Terlalu lama mandi atau berendam di air panas
  • Cuaca panas atau justru cuaca dingin dan kering
  • Makanan: telur, susu, gandum, kedelai, dan kacang tanah
  • Memiliki riwayat dermatitis atopik pada pasien dan atau keluarga 
  • Sering mengalami infeksi di saluran napas atas, akibat dari kolonisasi virus Staphylococcus Aureus penyebab herpes simpleks
  • Faktor lingkungan: jumlah keluarga, latar belakang pendidikan, tingkat penghasilan, migrasi dari desa ke kota, dan meningkatnya penggunaan antibiotik.

Tanda-tanda dermatitis atopik

Siklus rasa gatal yang menyiksa sehingga menimbulkan keinginan untuk menggaruk, dinamakan flare eksim. Dimana siklus ini merupakan hasil dari meningkatnya aliran darah akibat dermatitis atopik dan menyebabkan peradangan pada kulit. Akan lebih banyak timbul peradangan dan infeksi pada kulit apabila seorang penderita dermatitis atopik tidak dapat menahan keinginannya untuk menggaruk.

Bayi yang menderita dermatitis atopik akan mengalami rasa gatal, sehingga mengakibatkan mereka sulit tidur dan munculnya infeksi kulit akibat menggaruk kulit. Kondisi ini umumnya muncul sebelum usia 5 tahun, tetapi tidak akan terjadi secara terus-menerus karena eksim atopik bukan merupakan penyakit kambuhan.

Usia dan kondisi imun penderita akan menentukan tanda-tanda dermatitis atopik yang muncul. Tanda-tanda tersebut, diantaranya:

  • Rasa perih 
  • Kulit kering
  • Kulit bengkak
  • Kulit sensitif
  • Gatal, yang umumnya bertambah parah saat malam hari
  • Kulit tangan, kaki, dada, dan kelopak mata akan berwarna kemerahan
  • Area kulit yang terkena eksim atopik dapat menebal, pecah-pecah, dan bersisik
  • Benjolan berisi cairan atau nanah yang akan pecah saat digaruk, kemudian akan mengering menjadi luka.

dermatitis atopik

Komplikasi

Dermatitis atopik dapat menyebabkan munculnya infeksi-infeksi lainnya. Komplikasi dari dermatitis atopik, antara lain:

  • Dermatitis kontak iritan atau atopik dapat terulang kembali.
  • Gejala yang muncul dan dirasakan dapat mengganggu aktivitas penderita.
  • Pengobatan dengan steroid dapat menyebabkan hilang atau berkurangnya ukuran salah satu bagian dari tubuh (atrofi kulit)
  • Kerusakan kulit seperti luka bakar akibat terpapar zat iritan poten, seperti cairan asam dan basa kuat.
  • Perubahan warna kulit di bekas lesi (luka), seperti timbulnya bercak hipopigmentasi (menjadi lebih gelap) atau hiperpigmentasi (menjadi lebih terang) pada kulit. 
  • Lesi mungkin akan menjadi permanen apabila peradangan sudah mencapai dermis, yaitu lapisan kulit antara epidermis dan jaringan subkutan yang terdiri dari jaringan ikat yang muncul akibat stres dan ketegangan.

Pemeriksaan

Pemeriksaan eksim dapat dilakukan oleh dokter anak, dokter kulit, dokter umum atau dokter keluarga. Seperti pada umumnya setiap pemeriksaan akan dilakukan oleh dokter dengan menanyakan riwayat kesehatan (baik individu maupun keluarga), menanyakan gejala, melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda penyakit, serta apabila diperlukan dokter juga dapat melakukan tes tambahan.uji alergi untuk mengetahui penyebab dan untuk mengetahui hal-hal yang harus dihindari di kemudian hari.

Pemeriksaan klinis dermatitis atopik akan didasarkan pada hasil anamnesis (pemeriksaan wawancara) dan pemeriksaan fisik. Dimana hasil pemeriksaan tersebut harus terdiri dari 3 kriteria mayor dan 3 kriteria minor dari kriteria Williams (1994) di bawah ini, yaitu:

Kriteria mayor

Dikategorikan sebagai dermatitis atopik mayor apabila terdapat 3 dari 5 kriteria dermatitis atopik dibawah ini, kriteria tersebut adalah:

  • Dermatitis di wajah
  • Dermatitis kronis atau berulang
  • Dermatitis di fleksura pada dewasa
  • Penderita pernah mengalami riwayat atopi sebelumnya
  • Rasa gatal dan ruam di sebagian atau seluruh tubuh (pruritus)
  • Memiliki keluarga yang pernah mengalami riwayat atopi sebelumnya
  • Bayi dan anak dapat mengalami ekstensor, yaitu otot yang menyebabkan tungkai atau bagian tubuh lainnya menjadi lurus sehingga mengurangi sudut bagian dalam sendi.

Kriteria minor

Dikategorikan sebagai dermatitis atopik minor apabila terdapat 3 dari 5 kriteria dermatitis atopik dibawah ini, kriteria tersebut adalah:

  • Wajah pucat.
  • Kulit kering (xerosis).
  • Peradangan (kelilitis).
  • Gatal ketika berkeringat.
  • Gejala dimulai sejak usia dini.
  • Hipersensitif terhadap makanan.
  • Peradangan berulang (konjungtivitis).
  • Meningkatnya kadar IgE dalam serum.
  • Sensitif terhadap wol dan kain sintetis lainnya.
  • Lipatan di kantung mata (infra orbital Dennie-Morgan).
  • Tes kulit alergi tipe dadakan menunjukan hasil “positif”.
  • Jaringan bening di depan mata (kornea) akan menonjol keluar (keratokonus).
  • Kulit akan timbul tonjolan-tonjolan kecil seperti kerikil (aksentuasi perifolikular).
  • Gatal di area puting susu (Dermatitis di papilla mamae atau di area panget payudara).
  • Munculnya penyakit-penyakit yang disebabkan karena faktor lingkungan dan atau emosi.
  • Muncul bercak kemerahan pada kulit yang disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah di bawah kulit (eritema).
  • Infeksi kulit (khususnya yang disebabkan oleh virus Staphylococcus Aureus yang dapat menimbulkan herpes simpleks).
  • Rongga yang berisikan bola mata dengan jaringan lunak sebagai bantalan bola mata (orbita) akan berubah menjadi gelap. 
  • Munculnya katarak di bagian depan lensa mata (katarak subkapsular anterior), sehingga akan menghalangi masuknya cahaya menuju retina. 
  • Munculnya gangguan kulit yang ditandai dengan kering, bersisik, atau kulit menebal. Seperti iktiosis atau hiperliniar palmaris atau keratosis pilaris.
  • Munculnya bercak-bercak merah atau merah muda bulat atau tidak beraturan pada kulit (pitriasis alba), umumnya menyerang anak-anak dan remaja.
  • Terjadinya kemampuan abnomal suatu larutan dalam memvariasikan ukuran dan bentuk sel dengan mengubah jumlah air dalam sel pembuluh darah kulit (white dermographism) dan delayed blanch response.

Bayi

Karena sistem imun tubuh bayi yang belum sempurna, maka terdapat perbedaan ketika mengkategorikan dermatitis atopik mayor. Dikategorikan dermatitis atopik mayor apabila terdapat 3 dari 5 kriteria dermatitis atopik dibawah ini, kriteria tersebut adalah:

  • Adanya riwayat atopi pada anggota keluarga yang lain
  • Munculnya rasa gatal di seluruh atau sebagian tubuh (pruritus)
  • Munculnya dermatitis di area wajah dan ekstensor (otot yang menyebabkan tungkai atau bagian lain tubuh menjadi lurus).

Dikategorikan dermatitis atopik minor pada bayi apabila terdapat 3 dari 5 kriteria dermatitis atopik dibawah ini, kriteria tersebut adalah:

  • Terdapat luka atau robekan (fisura) di belakang telinga.
  • Terdapat ketombe (skuama) kronis di kulit kepala (scalp)
  • Kulit menjadi kering (xerosis) dan dapat berubah menjadi:
  • Hiperliniaris palmaris, muncul akibat keringat berlebih 
  • Iktiosis, yaitu kulit kering, menebal, kasar, dan bersisik
  • Aksentuasi perifollicular, benjolan kecil-kecil pada kulit seperti kerikil. 

penyakit dermatitis atopik

Penyembuhan dan pencegahan

Sayangnya belum ada penyembuhan untuk dermatitis atopik, tetapi gejala dan frekuensi kekambuhannya dapat dikurangi dengan pengobatan yang tepat. Mengobatinya dapat meredakan, meringankan, dan mencegah rasa gatal guna mencegah infeksi lebih lanjut. Pengobatannya dapat dilakukan baik secara medis maupun non medis, yakni:

Medis 

Pengobatan medis dapat dilakukan dengan mengkonsumsi obat-obatan dan dengan menggunakan perban khusus.

Menggunakan obat

Dokter juga dapat meresepkan beberapa jenis obat untuk membantu meredakan gejala dermatitis atopik yang dialami, seperti:

Krim (losion) dan salep kortison (steroid) 

Kulit kering, bersisik, dan gatal adalah akibat dari terserangnya dermatitis atopik, dokter dapat memberikan krim, losion atau menyarankan untuk mengompres lesi dengan air dingin untuk mengatasi komplikasi tersebut. Hindari menggunakan krim atau lotion tersebut dalam jangka panjang karena dapat menimbulkan komplikasi seperti penipisan, gangguan dan perubahan warna kulit.

Obat-obatan

Obat minum antihistamin dijual secara bebas tetapi dapat menimbulkan rasa kantuk. Reaksi alergi yang dipicu oleh histamin dihambat, sehingga rasa gatal dapat diredakan. Contoh obat ini adalah setirizin (zyrtec), diphenhydramine (benadryl), fexofenadine (allegra) dan loratadine (claritin). 

Antibiotik topikal 

Infeksi yang muncul pada area yang terkena eksim dapat diatasi dengan mengkonsumsi antibiotik. Antihistamin yang umumnya diberikan dokter dapat mengatasi rasa gatal yang muncul sehingga penderita tidak akan merasakan dorongan untuk menggaruk, yang dapat mengakibatkan infeksi.

Imunosupresan 

Obat resep ini mencegah sistem imun tubuh bereaksi berlebihan terhadap segala sesuatu yang dapat menimbulkan alergi, sehingga dermatitis atopik dapat dihindari. Efek sampingnya adalah meningkatnya risiko kanker, infeksi, hipertensi, dan penyakit ginjal.

Memakai perban khusus

Pada beberapa kasus, dokter juga dapat meresepkan perban khusus untuk membungkus area kulit yang terkena dermatitis atopik. Perban sebelumnya dioleskan salep kortikosteroid untuk mencegah gatal, membantu penyembuhan kulit. Metode ini juga akan dan mencegah kulit kembali kering.

Non medis (penyembuhan dan pencegahan)

Penyembuhan dan pencegahan dermatitis atopik dapat dilakukan dengan melakukan beberapa cara dibawah ini, diantaranya:

  • Kelola stres
  • Temukan faktor risiko yang dapat memicu dermatitis atopik
  • Hindari pemakaian zat-zat kimia pada kulit dan bahan pakaian 
  • Hindari bahan pakaian yang dapat menimbulkan reaksi alergi. Seperti bahan yang terlalu tebal, ketat, kotor, wol atau bahan sintetik
  • Jaga kebersihan bahan pakaian dan alas tempat tidur
  • Gunakan sabun dengan pH netral dan mengandung pelembab
  • Hindari pembersih yang mengandung antibakteri karena akan menyebabkan virus atau bakteri menjadi bertambah kuat
  • Tubuh harus segera dibilang setelah selesai berenang untuk menghindari kontak klorin yang terlalu lama
  • Hindari makanan yang dapat memicu munculnya gejala eksim atopik, seperti telur dan susu sapi.
  • Pada bayi, jaga kebersihan di area popok atau pampers dan hindari penggunaan zat-zat kimia.

dermatitis atopik liver adalah

Kesimpulan

Terkadang kita menyepelekan gejala berupa kulit yang memerah, rasa gatal, terkelupas, bersisik atau bengkak. Namun, sebenarnya ini merupakan gejala suatu penyakit yang dinamakan dermatitis atau eczema. Apabila gejala dermatitis tersebut sudah menjadi parah atau kronis, maka akan disebut sebagai dermatitis atopik (DA) atau eksim atopik (dermatitis kontak iritan), dimana gejalanya akan ditandai dengan kulit kering, memerah dan gatal. Gejala kronis ini dapat bertahan dalam jangka waktu lama, dan akan hilang timbul atau kambuhan. Semua orang dapat mengalami dermatitis atopik, tetapi kondisi ini lebih sering terjadi pada anak.

Dermatitis berarti kondisi kulit dan atopik berkaitan dengan penyakit yang disebabkan oleh reaksi alergi. Ini berarti dermatitis atopik berada dalam kelompok yang sama dengan demam dan asma, karena sama-sama dipicu oleh reaksi energi. Sehingga seseorang yang memiliki riwayat asma dan rinitis alergi, umumnya akan memiliki kondisi dermatitis atopik. Sayangnya belum ada penyembuhan untuk dermatitis atopik, tetapi gejala dan frekuensi kekambuhannya dapat dikurangi dengan perawatan yang tepat.

Dermatitis atopik tidak menular, tetapi pemicu pastinya belum dapat diketahui. Kemungkinan besar dermatitis atopik disebabkan oleh reaksi alergi, kombinasi penyakit genetik dan faktor-faktor lain. Peradangan pada kulit, kulit kering dan sensitif terhadap infeksi merupakan akibat dari mutasi gen pada seseorang yang menderita dermatitis atopik dan memiliki beberapa penyakit genetik, gejalanya yang akan muncul seperti gatal, ruam, dan kulit menjadi kemerahan.

Siklus rasa gatal yang menyiksa sehingga menimbulkan keinginan untuk menggaruk, dinamakan flare eksim. Dimana siklus ini merupakan hasil dari meningkatnya aliran darah akibat dermatitis atopik dan menyebabkan peradangan pada kulit. Akan lebih banyak timbul peradangan dan infeksi pada kulit apabila seorang penderita dermatitis atopik tidak dapat menahan keinginannya untuk menggaruk.

Bayi yang menderita dermatitis atopik akan mengalami rasa gatal, sehingga mengakibatkan mereka sulit tidur dan munculnya infeksi kulit akibat menggaruk kulit. Kondisi ini umumnya muncul sebelum usia 5 tahun, tetapi tidak akan terjadi secara terus-menerus karena eksim atopik bukan merupakan penyakit kambuhan.

Dermatitis atopik dapat menyebabkan munculnya infeksi-infeksi lainnya. Komplikasi dari dermatitis atopik, antara lain dermatitis kontak iritan, terganggunya aktivitas penderita, atrofi kulit, kerusakan kulit seperti luka bakar, munculnya bercak hipopigmentasi (menjadi lebih gelap) atau hiperpigmentasi (menjadi lebih terang) pada kulit dan lesi mungkin akan menjadi permanen apabila peradangan sudah mencapai dermis.

Pemeriksaan klinis dermatitis atopik akan didasarkan pada hasil anamnesis (pemeriksaan wawancara) dan pemeriksaan fisik. Dimana hasil pemeriksaan tersebut harus terdiri dari 3 kriteria mayor dan 3 kriteria minor dari kriteria Williams (1994).

Referensi:

  1. SehatQ: Eksim Atopik, Penyakit Kulit yang Sering Terjadi tapi Tidak Bisa Disembuhkan: (https://www.sehatq.com/artikel/eksim-atopik-penyakit-kulit-yang-sering-terjadi-tapi-tidak-bisa-disembuhkan)
  2. Alomedika: Dermatitis Kontak Iritan: (https://www.alomedika.com/penyakit/dermatovenereologi/dermatitis-kontak-iritan/prognosis)
  3. DokterPost: Diagnosis dan Terapi Dermatitis Atopik di PPK 1: (http://dokterpost.com/diagnosis-dan-terapi-dermatitis-atopik-di-ppk-1-2/)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *