Depresi

Penjelasan

Depresi atau major depressive disorder (MDD) adalah gangguan perasaan atau suasana hati (mood) yang menyebabkan perasaan sedih, kehilangan, atau kemarahan yang terus-menerus dan tidak kunjung menghilang. Depresi berbeda dengan stres, stres adalah sebuah reaksi tubuh pada situasi yang berbahaya, atau sesuatu yang nyata dan dirasakan sehingga dapat mengakibatkan gangguan kesehatan seperti sakit kepala dan sakit lambung. Stres dapat diobati dengan terapi pengelolaan stres dan pemberian obat untuk mengurangi gejala atau komplikasi yang dihasilkan oleh dokter.

Depresi disebabkan karena adanya perasaan tertekan yang membuat individu merasa sedih selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan dan berlarut-larut. Sehingga seseorang yang sedang mengalami depresi akan kehilangan minat dengan hal-hal yang disukai (hobi), kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari yang normal, dan terkadang merasa hidup tidak layak untuk dijalani.

Depresi dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu: depresi mayor atau major depressive disorder, depresi persisten atau distimia atau depresi kronis, kepribadian ganda atau bipolar disorder, depresi psikosis, depresi perinatal atau postpartum depression, premenstrual dysphoric disorder (merupakan bagian dari premenstrual syndrome namun jauh lebih parah), depresi musiman atau seasonal affective disorder, depresi situasional dan depresi atipikal.

Riset Kesehatan Dasar Kemenkes 2018 mencatat, angka prevalensi depresi di Indonesia untuk kelompok usia lebih dari 15 tahun sebesar 6,1 persen atau 11.315.500 orang, dan Jawa Barat 2.310.000 orang. “Mereka harus didampingi, dibantu, bila perlu mendapatkan pertolongan medis,” ujar Kepala Program Pelatihan Residensi Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Shelly Iskandar, dr., SpKJ, Psikiatri Umum.

Depresi

Depresi

Penyebab depresi

Depresi pada anak-anak  atau remaja dan orang dewasa dapat disebabkan oleh beberapa faktor-faktor, seperti:

Biologis

Seperti struktur otak yang tidak normal, ketidak seimbangan hormon dalam tubuh, atau perubahan di zat-zat otak yang mengatur keseimbangan suasana hati. 

Genetik

Seseorang yang memiliki riwayat depresi di keluarganya akan lebih mudah mengalami depresi

Konsumsi alkohol berlebih

Konsumsi alkohol terutama dalam jumlah berlebih juga dapat menyebabkan depresi

Konsumsi obat-obatan tertentu 

Contohnya konsumsi obat kortikosteroid, beta blocker, dan interferon

Kepribadian

Seseorang yang merasa rendah diri atau kritis terhadap diri sendiri dan memiliki strategi penyelesaian masalah yang kurang berhasil atau trauma pada kehidupan sebelumnya.

Kondisi kesehatan (kondisi medis)

Contohnya memiliki penyakit diabetes, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit jantung, insomnia, nyeri kronis, atau attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD)

Mengalami cedera di kepala

Mengalami kejadian-kejadian yang menegangkan atau yang mengubah hidup

Berupa kehilangan orang yang dicintai, perceraian, masalah pekerjaan, hubungan dengan teman dan keluarga, masalah keuangan, masalah medis atau stress akut, memiliki bayi, dan trauma masa kecil.

Penyalahgunaan obat (seperti amfetamin atau narkoba)

Pernah mengalami satu episode depresi berat (trauma). Hal ini akan meningkatkan risiko untuk terjadinya depresi yang berulang di kemudian hari.

Gejala  dan tipe depresi

Gejala  dan tipe depresi

Gejala  dan tipe depresi

Seseorang dapat dikategorikan depresi apabila ia mengalami minimal 5 gejala (dari 9 gejala) secara terus-menerus selama 2 minggu, dimana gejala kehilangan minat atau rasa senang, atau suasana hati yang tertekan atau murung harus termasuk dalam 5 gejala yang dialami. Mereka yang mencari pengobatan sering melihat peningkatan gejala hanya dalam beberapa minggu.

Gejala-gejala umum yang menandakan gangguan depresi, adalah:

  • Hilangnya minat atau rasa senang pada hampir semua aktivitas (anhedonia)
  • Muncul masalah di pencernaan, untuk perempuan dapat juga muncul sakit kepala dan kram
  • Muncul perasaan tidak berharga, hampa, sedih yang mendalam. Perempuan juga akan merasa putus asa, kosong dan gelisah. 
  • Adanya perubahan berat badan atau gangguan pada nafsu makan yang signifikan.  Anak-anak dan remaja akan sulit mencapai kenaikan atau penurunan berat badan yang diharapkan 
  • Gangguan tidur 

Seperti insomnia, hipersomnia (rasa kantuk berlebih), tidur gelisah, tidak tidur sepanjang malam

  • Gangguan pada kemampuan kognitif

Terganggunya atau bahkan hilangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, sehingga kesulitan menyelesaikan tugas, berbicara lebih lambat atau respons yang tertunda selama percakapan

  • Gangguan pada psikomotor (psychomotor retardation)

Kesulitan untuk melakukan hal-hal sehari-hari, kecemasan yang berefek pada psikomotor atau psychomotor agitation (kemampuan kerja fisik dan otot). Seperti mengelilingi ruangan atau mengetuk-ngetukan kaki di lantai. 

  • Kelelahan atau kehilangan energi (mudah lelah).
  • Perubahan suasana hati 

Seperti rasa tertekan atau murung, kemarahan, agresivitas, lekas marah, gelisah, gelisah. Anak-anak dan remaja, dapat merasa frustasi (kekecewaan). 

  • Sering berfikir tentang kematian, keinginan untuk bunuh diri (secara tidak spesifik maupun adanya rencana yang terperinci), atau berusaha untuk bunuh diri. 

Gejala khusus yang mungkin muncul pada pria dewasa adalah minum berlebihan, terlibat dalam kegiatan berisiko tinggi (seperti menggunakan narkoba), berkurangnya hasrat dan kinerja seksual. Perempuan mungkin mengalami gejala khusus lainnya seperti menarik diri dari keterlibatan sosial. Depresi pada anak-anak atau remaja dapat mengakibatkan perilaku, seperti mendapat masalah di sekolah atau menolak pergi ke sekolah dan menghindari teman atau saudara kandung.

Gejala Depresi

Gejala Depresi

Gejala Depresi berdasarkan tipenya

Depresi dapat dibagi menjadi 2 tipe utama, dimana masing-masing tipe memiliki gejala yang berbeda-beda.

Gangguan depresi persisten atau PDD (dahulu disebut dysthymia)

Seseorang dikategorikan PDD apabila ia mengalami gejalanya minimal selama 2 tahun. Depresi ini lebih ringan tetapi kronis karena berlangsung lebih lama dari depresi mayor. PDD dapat diobati dengan perawatan yang konsisten. 

Gejala PDD adalah merasa kurang produktivitas, memiliki harga diri yang rendah, putus asa dan kehilangan minat dalam aktivitas normal sehari-hari.

Gangguan depresi mayor

Bentuk depresi yang lebih parah disebut sebagai gangguan depresi mayor. Gejalanya ditandai dengan munculnya perasaan sedih, putus asa, dan tidak berharga yang terus-menerus yang tidak hilang begitu saja.

Jangan abaikan gejala depresi, karena depresi adalah penyakit kesehatan mental yang serius dengan potensi komplikasi. Jika suasana hati tidak membaik atau semakin buruk, cari bantuan medis. 

Komplikasi 

Penderita depresi yang tidak diberikan perawatan yang tepat, akan dapat mengakibatkan beberapa komplikasi, baik secara medis maupun non medis. 

Medis 

Depresi dapat menyebabkan beberapa komplikasi penyakit, antara lain:

  • Asma
  • Diabetes
  • Kanker
  • Radang sendi
  • Penyakit kardiovaskular
  • Obesitas atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas

Non Medis 

Depresi juga dapat menyebabkan terjadinya beberapa kondisi di bawah ini:

Penyalahgunaan narkoba dan konsumsi alkohol berlebih

Penderita depresi mungkin alam menggunakan narkoba dan mengkonsumsi alkohol secara berlebih, untuk meringankan gejala yang dirasakan.

Depresi dan kecemasan

Depresi dan kecemasan dapat terjadi secara bersamaan. Gangguan obsesif-kompulsif (OCD) merupakan salah satu jenis gangguan kecemasan. Kondisi ini dapat menyebabkan pikiran, dorongan, dan ketakutan yang tidak diinginkan dan berulang-ulang (obsesi). Sehingga akan melakukan perilaku berulang atau kompulsi yang dianggap atau diharapkan dapat meringankan stres. OCD juga dapat menyebabkan penarikan dari teman dan situasi sosial, yang dapat meningkatkan risiko depresi.

Depresi pada kehamilan

Kehamilan dapat merasakan depresi dan berlanjut setelah bayi lahir atau pasca persalinan (gangguan depresi mayor dengan onset peripartum). Perawatan dapat dilakukan dengan terapi bicara dan perawatan alami lainnya, obat antidepresan juga dapat dikonsumsi selama kehamilan (tindakan ini bukanlah suatu metode yang aman untuk bayi) 

Psikosis depresi

Psikosis depresi adalah suatu kondisi dimana ketika depresi dan psikosis (gangguan mental lain) terjadi bersamaan. Kondisi ini menyebabkan orang melihat, mendengar, percaya, atau mencium hal-hal yang tidak nyata dan mengalami perasaan sedih, putus asa, serta mudah tersinggung. Penderitanya juga dapat berpikir untuk bunuh diri atau mengambil risiko yang tidak biasa, Obat-obatan dan terapi electroconvulsive (ECT) akan sangat membantu perawatannya.

Penting bagi orang-orang di sekitar penderita untuk memperhatikan gejala-gejala depresi atau kambuhnya depresi pada penderita dan selalu mendukung serta menemani penderita, agar penderita tidak merasa sendiri sehingga mungkin akan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan jiwanya.

Diagnosa depresi

Seperti pada umumnya setiap diagnosa akan dimulai oleh dokter dengan menanyakan riwayat kesehatan, dan melakukan pemeriksaan fisik. Diagnosa untuk depresi lebih menitikberatkan pada gejala-gejala depresi yang dialami (minimal 5 gejala atau DSM-5). Tindakan diagnosa yang mungkin akan dilakukan dokter, antara lain:

Menanyakan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik (tes depresi)

Pada tes ini, dokter akan menanyakan tentang gejala, pikiran, perasaan, dan pola perilaku selama 1 bulan terakhir. Seperti pola makan, pola tidur, suasana hati (rasa stres dan putus asa), serta tingkat aktivitas (apakah memiliki minat atau kesenangan untuk melakukan sesuatu).

Tes lanjutan

Tes lanjutan akan dilakukan dokter dengan melakukan:

Tes laboratorium

Seperti tes darah atau urin. Tes ini untuk memastikan ada atau tidaknya kelainan biologis yang juga dapat menyebabkan perubahan suasana hati dan untuk memastikan gejala depresi yang dimiliki apakah terkait dengan kondisi seperti penyakit tiroid, kekurangan vitamin D, atau masalah medis lainnya.

CT scan atau MRI otak

Tes ini dilakukan untuk menyingkirkan penyakit serius, seperti tumor otak

Elektrokardiogram (EKG) 

EKG dilakukan untuk mendiagnosis beberapa masalah jantung.

Elektroencefalogram (EEG) 

EEG dilakukan untuk merekam aktivitas listrik di otak.

Pengobatan atau perawatan depresi

Pengobatan atau perawatan depresi

Pengobatan atau perawatan depresi

Depresi bisa bersifat sementara, atau bisa menjadi tantangan jangka panjang dimana penderita depresi bisa sembuh sendiri secara alami, dalam waktu 24 bulan. Namun, dalam kurun waktu tersebut, apa saja bisa terjadi kepada mereka. Perawatan tidak selalu membuat depresi hilang sepenuhnya, tetapi dapat membuat gejala lebih mudah ditangani. Mengelola gejala depresi melibatkan menemukan kombinasi obat dan terapi yang tepat.

Pengobatan atau perawatan depresi dapat dilakukan baik dengan cara medis dan non medis, dimana melakukan kedua hal ini secara konsisten dapat sangat membantu. Antara lain dengan:

Pemberian atau konsumsi obat-obatan medis

Beberapa jenis obat-obatan yang dapat diberikan untuk mengurangi depresi, adalah:

Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI)

Menghambat dengan selektif penyerapan kembali (reuptake) neurotransmiter serotonin oleh sel saraf., sehingga, kadar serotonin pun dapat meningkat dan diharapkan membuat Anda lebih bahagia. 

Contohnya: Fluoksetine, paroksetine, vilazodon, citalopram, fuvoksamin, escitalopram (seperti obat cipralex), dan Sertraline.

Serotonin-norepinefrin reuptake inhibitor (SNRI)

Penghambat reuptake serotonin dan norepinefrin (SNRI) bertujuan untuk menghambat terserapnya kembali norepinefrin dan serotonin oleh sel saraf. 

Beberapa contoh dari SNRI, yaitu: venlafaksin, vuloksetine, desvenlafaksin, milnacipran, levomilnacipran

Antidepresan atipikal

Obat ini memiliki efek samping yang lebih ringan pada otot dan saraf dibanding antipsikotik tipikal, tetapi cenderung menimbulkan kenaikan berat badan dan gangguan seksual. Antidepresan atipikal meningkatkan kadar serotonin, norepinefrin, dan dopamin dengan cara yang unik. 

Contoh antidepresan atipikal, yaitu: bupropion (digunakan pada gangguan depresi mayor, untuk mendukung penghentian merokok dan penghambat terserapnya dopamin), mirtazapin (digunakan untuk depresi berat, bekerja dengan menghambat reseptor hormon stres epinefrin (adrenalin) di otak), trazodon dan vortioksetin (digunakan untuk pengobatan depresi berat, bekerja dengan menghambat penyerapan serotonin serta memblokir reseptor adrenergik).

Antidepresan trisiklik (TCA)  

TCA bekerja dengan memblokir penyerapan serotonin dan norepinefrin ke dalam sel-sel saraf (asetilkolin), sehingga membantu mengatur pergerakan otot rangka. 

Contohnya: amitriptylin, desipramin, amoksapin, serta klomipramin.

Penghambat monoamine oxidase Inhibitors (MAOIs)

MAOIs bekerja dengan menghambat aksi enzim yang disebut monoamine oksidase, sehingga kadar neurotransmiter dapat meningkat dan diharapkan dapat memperbaiki suasana hati. Jenis obat ini membutuhkan diet yang ketat karena obat ini dapat berinteraksi dengan jenis makanan tertentu yang dapat mengakibatkan efek yang berbahaya.

Anti ansietas 

Obat ini digunakan untuk mengatasi gangguan kecemasan, contohnya benzodiazepin

Obat antipsikotik

 Antipsikotik digunakan untuk penanganan gangguan mental seperti halusinasi. 

Contoh obat-obatan jenis ini adalah: clozapine, risperidone, quetiapine, dan olanzapine.

Psikoterapi (terapi bicara atau terapi psikologis) 

Psikoterapi dilakukan oleh ahli kesehatan mental, seperti psikolog. Jenis terapi yang biasanya diberikan untuk mengatasi depresi adalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy). Psikoterapi dapat membantu penderita dalam:

  • Beradaptasi dengan masalah yang dihadapi.
  • Belajar untuk menetapkan tujuan yang realistis.
  • Membantu menemukan cara yang lebih baik untuk mengatasi dan memecahkan masalah.
  • Mengenali keyakinan, pikiran atau perilaku negatif dan menggantinya dengan yang sehat dan positif. 
  • Mengidentifikasi masalah yang berkontribusi pada depresi dan mengganti perilaku-perilaku yang memperparah depresi yang dialami.
  • Membantu mendapatkan kembali rasa puas dan kontrol dalam hidup serta membantu meringankan gejala depresi, seperti keputusasaan dan kemarahan.
  • Mengembangkan kemampuan untuk mentoleransi dan menerima masalah yang dialami melalui perilaku-perilaku yang sehat. 
  • Menjabarkan hubungan individu dengan orang lain dan kejadian-kejadian yang dialami, serta mengembangkan interaksi yang positif dengan orang lain. 

Penderita depresi akan direkomendasikan untuk mendapatkan penanganan rawat inap di rumah sakit apabila ia mengalami depresi parah karena dapat memiliki kemungkinan untuk menyakiti dirinya atau orang lain dan saat penderita tidak mampu mengurus dirinya.

Terapi cahaya 

Terapi cahaya umumnya digunakan pada gangguan afektif musiman atau gangguan depresi mayor dengan pola musiman. Terapi ini dapat menggantikan paparan sinar matahari yang tidak didapatkan selama cuaca dingin terjadi, paparan dengan dosis cahaya putih dapat membantu mengatur suasana hati dan mengurangi gejala depresi. Tubuh akan merespon terapi ini dalam 2-4 hari, akan tetapi fototerapi biasanya akan tetap dilakukan selama 3 minggu hingga gejala depresi berkurang.

Para ahli menyimpulkan bahwa terapi cahaya adalah cara mengatasi depresi yang lebih efektif untuk dilakukan ketimbang memberikan obat antidepresi.

Tindakan mandiri (dirumah)

Penderita juga dapat melakukan hal-hal dibawah ini untuk mempercepat perawatan atau pengobatan, antara lain:

  • Atur waktu dan jadwal agar tidak kewalahan.
  • Hindari rokok, alkohol, dan narkotika.
  • Kelola stres dan relaksasi, seperti meditasi.
  • Perbanyak informasi mengenai depresi yang diderita.
  • Tetap mengikuti penanganan yang telah diberikan secara teratur.
  • Perhatikan apa yang dapat memicu depresi dan mengenali tanda-tanda gejala depresi.
  • Menerapkan pola hidup yang sehat, seperti mengonsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, dan olahraga secara teratur (minimal 30 menit perhari dan lakukan 3-5 kali seminggu).
  • Jangan mengisolasi diri, agar dapat berdiskusi bersama dan saling mendukung satu sama lainnya. 
  • Jangan terlalu memaksakan diri untuk menangani semua hal yang terjadi dalam hidup  
  • Jangan membuat suatu keputusan penting dalam keadaan tertekan.
  • Membuat catatan sebagai media untuk mengekspresikan emosi dan pemikiran yang alami.

Obat-obatan dan minyak alami

Beberapa jenis obat-obatan dan minyak alami juga dipercaya dapat mengatasi gejala depresi, antara lain:

Asam lemak omega-3 

Lemak esensial ini penting untuk perkembangan neurologis dan kesehatan otak

Suplemen

Beberapa jenis suplemen yang dianggap dapat mengurangi gejala depresi adalah: St. John’s wort, S-adenosyl-L-methionine atau SAMe (efeknya terlihat maksimal pada orang yang menggunakan inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI), sejenis antidepresan tradisional) dan 5-hydroxytryptophan atau 5-HTP (meningkatkan kadar serotonin di otak, yang dapat meredakan gejala)

Vitamin

Vitamin B (B-12 dan B-6 sangat penting untuk kesehatan otak, kadar vitamin B rendah dapat meningkatkan risiko depresi), vitamin D atau vitamin sinar matahari (penting untuk kesehatan otak, jantung, dan tulang, orang yang mengalami depresi lebih cenderung memiliki kadar vitamin ini yang rendah).

Minyak esensial

Efeknya pada depresi memang masih terbatas, tetapi mungkin bermanfaat selama penggunaan jangka pendek. Contoh minyak esensial yang dapat dihirup adalah: jahe liar (dapat mengaktifkan reseptor serotonin di otak sehingga memperlambat pelepasan hormon pemicu stres), bergamot (minyak atsiri jeruk ini dapat mengurangi kecemasan), dan chamomile atau minyak mawar (mungkin memiliki efek menenangkan). 

Pencegahan

Depresi tidak dapat dicegah secara pasti, namun beberapa cara dibawah ini dapat membantu. Antara lain:

  • Kontrol stres, seperti meditasi, yoga, dan sebagainya.
  • Dekatkan diri dengan keluarga dan orang-orang terdekat.
  • Hindari mengonsumsi alkohol dan penggunaan obat terlarang.
  • Hindari membuat keputusan hidup yang besar saat Anda merasa sedih.
  • Jangan mengisolasi diri, habiskan waktu bersama keluarga dan teman.
  • Mempertimbangkan penanganan jangka panjang untuk mencegah kambuhnya depresi. 
  • Mendampingi keluarga atau teman saat mengalami masa sulit atau ketika mereka dalam kondisi depresi, hal ini dapat meningkatkan harga diri penderita dan penderita merasa diterima.
  • Menerapkan pola hidup yang sehat, seperti mengonsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, dan olahraga secara teratur (minimal 30 menit perhari dan lakukan 3-5 kali seminggu).
  • Segera mencari bantuan dokter dan ahli kesehatan mental jika terdapat tanda-tanda depresi pada dirinya atau orang-orang terdekat.

Referensi

SehatQ: Depresi: (https://www.sehatq.com/penyakit/depresi)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *