Breaking News

  • Tips Maksimalkan THR Agar Keuangan Tak Jebol
  • Lapisan Es Puncak Jayawijaya Terancam Lenyap
  • Belajar Menjadi Pribadi Yang Tangguh
  • Kanker Bisa Disebabkan Dan Disembuhkan Oleh Gaya Hidup Anda
  • 4 Cara Agar Tetap Produktif Saat Berpuasa

SIARAN SINDIKASI RRI SEMARANG DENGAN RADIO MACAU

Semarang - Minggu 9 November 2015 pk.19.00 WIB. RRI Semarang Siaran sindikasi dng Radio Macau dng topik Kontribusi Devisa TKI untuk Indonesia, dng nara sumber Prof Siti Mujibatun guru besar Ilmu Hadist UIN Walisongo. Malam itu dipandu oleh salah satu presenter pro 2 Semarang, Aldila Mengupas tentang potensi, bakat ataupun kemampuan bertepatan dengan hari pahlawan. wanita kelahiran Klaten 13 April 1959 ini menceritakan kisah perjuangannya dalam mewujudkan cita-cita di bidang pendidikan itu. Di mana untuk mewujudkannya, dirinya harus menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi.

Kisahnya menjadi seorang TKI berawal saat dirinya lulus S1 di IAIN Walisongo Semarang yang kini menjadi UIN. Saat itu, dirinya yang ingin melanjutkan kejenjang pendidikan lebih tinggi, namun terkendala biaya. “Saat itu, menunggu beasiswa sulit sekali, dan lama. Akhirnya, saya diperintahkan oleh dosen saya untuk mencari pengalaman yang bermanfaat untuk karier ke depan. Akhirnya saya nekat mendaftarkan diri menjadi TKI ke Arab Saudi,” terangnya. Wanita yang telah dikarunia dua orang anak, bernama Fatih Ashthifani dan Addina Filwa Putri ini pun melanjutkan ceritanya. 

Pada tahun 1985, dirinya berhasil berangkat ke Arab Saudi sebagai TKI. Di sana, dia bekerja kepada seorang majikan, di kota Riyadh. Karena jenjang pendidikannya yang cukup tinggi, akhirnya Mujibatun tidak bekerja seperti layaknya TKW lain. “Dari menjadi TKW itu saya dapat menunaikan ibadah haji gratis. Awalnya ditawari jadi TKI di Italia, tapi karena saya terobsesi dapat naik haji, jadi saya memilih di Arab Saudi,” terangnya sambil tertawa. Setelah dirasa cukup, Mujibatun kembali ke Indonesia. Setibanya di Indonesia, dia diminta IAIN Walisongo Semarang untuk mengabdikan ilmunya sebagai dosen. “Dari menjadi dosen dan hasil bekerja selama di Arab Saudi itu, saya melanjutkan ke jenjang pendidikan S2 dan S3 di sini. Dan sekarang, alhamdulillah semua itu sudah saya lewati. Ini adalah puncak karier dalam hidup saya," jelasnya.  

(ditanilan/rrisemarang)