Breaking News

  • " World Ocean Day- PAPUA BARAT"
  • Sejarah Bento, Makanan Kotak Khas Jepang
  • Usal Usul Dan Perkembangan Rantang
  • Estcopato: Irama Anak Pantai Timur Papua
  • Hari Ini Dalam Sejarah: 10 Juni

Pelajaran Saat Minum Kopi Asing

Cuaca hari ini biasa saja, tak seromantis dan semelankolis kemarin. Kalau kemarin hujan bertubi-tubi menggagalkan usaha matahari untuk bersanding dengan pagi, hari ini matahari punya kesempatan. Meski redup, setidaknya ada panas sedikit yang mampu membuat wajah anak gadis bersemu merah. Jadi aku bukan menulis karena secara impulsif didorong suasana yang mendukung, bukan. Aku menulis karena akhir-akhir ini terlalu banyak yang aku rasa tetapi tak pernah hinggap lagi di dering ponselmu.

Kamu, seorang asing, yang tiba-tiba berkenalan dengan keluarga dekatku, malam itu aku buatkan jus jeruk dari serbuk minuman ringan untukmu, untuk yang lain juga. Mungkin kamu kelelahan sehingga tak sempat menyentuh barang seujung jari minuman yang kubuat. Harusnya mungkin aku buatkan kamu kopi supaya kamu sedikit segar, bukan malah air jeruk yang mungkin terlalu manis. Atau seharusnya kamu paksakan diri saja minum apa yang aku buat supaya kantukmu pergi dan kita bisa berbincang. Entahlah, kita sama-sama lelah. Kamu tidur dan pagi itu adalah hari  terakhir kita bertemu.

Baik. Begini lelaki asingku, Agar segalanya jelas, perlu kukatakan bahwa aku tak suka kopi. Mencium baunya saja, rasanya paru-paruku penuh sekali. Aku tak kuat. Untuk tak menyebut ‘tak pernah’, kuakui beberapa kali aku sengaja menyeduh kopi untuk kuminum sendiri. Terkadang kopi hitam, terkadang kopi sachet yang sudah bercampur krimer. Baru-baru ini ibuku mengajarkan bagaimana membuat kopi hitam yang menurutnya enak. Tetap saja rasanya tidak enak, baunya terlalu menusuk. Aku meminum kopi karena ikut-ikutan. Kata orang, kalau kamu sangat mengantuk tetapi butuh matamu tetap terjaga, maka minumlah kopi. Sedikit banyak jantungmu akan terpacu lebih cepat. Kafeinnya akan menjalar ke seluruh tubuhmu. Mencegahmu mengantuk. Aih ya, betul, betul sekali. Tapi siapapun yang mengatakan itu, dia lupa kalau kopi tak mengembalikan stamina tubuh. Aku tak suka minum kopi: mataku akan tetap terjaga, tetapi otakku sama sekali lumpuh, dan badanku terasa ringan melayang. Kopi bukan pilihanku. Tetapi kala itu kamu menyeduhkan aku secangkir kopi. Kopi hitam sederhana, tanpa krimer sama sekali. Kamu menyodorkannya dengan harapan aku meminumnya. “Enggak, enggak suka.” Kataku menanggapi ajakanmu. Namun, asap tipis mengepul di cangkir yang kamu bawa, membuatnya seakan menarik untuk dicoba. Ah, aku tetap enggan, aku katakan sekali lagi: sensasinya tak enak. Kamu berhenti membujukku, tetapi dengan nikmat menyesapnya sedikit demi sedikit.

Ketika sebagian wajahmu tertutupi oleh cangkir saat kau meneguk kopimu, aku bisa lihat matamu nakal menantangku untuk mencoba. Mungkin karena sudah ada di hadapanku, mungkin karena kamu yang menyeduhkannya, dan mungkin didorong suasana malam yang dingin mengelus pipi, aku minum jua. Bibir gelas terasa hangat beradu dengan bibirku yang kedinginan. Seteguk cairan panas masuk ke dalam kerongkonganku. Aku gelagapan, tapi berusaha rileks supaya kamu tidak menyadarinya. Sambil berusaha menyesuaikan diri dengan bau yang memenuhi rongga mulut dan hidungku, tegukkan kedua kumulai. Dengan santai kamu memperhatikanku. Aku rikuh dan malu. Dan kita sama larutnya seperti bubuk kopi, gula, dan air panas dalam secangkir kopi hitam.

Percakapan berhenti saat cangkir kita tinggal berisi ampas. Dan entah itu pagi, siang, sore, atau malam, tiba-tiba tak pernah ada lagi secangkir kopi. Tidak ada bekas dari percakapan kecuali ampas kopi berwarna hitam yang sengaja kusimpan untuk kukenang. Lelaki asingku. Sial, sungguh sial. Aku tak bermaksud menyalahkanmu atas tumpukan kenangan yang aku maki setiap hari. Tetapi aku seakan perlu waktu yang sangat lama untuk bisa minum kopi lagi. Ternyata saat itu aku terlalu terburu-buru, rikuh karena matamu tak lepas memerhatikanku. Kopi (sialan) itu merusak kerongkonganku, meninggalkan bekas perih yang membuatku tak bisa begitu saja melupakan kejadian minum kopi denganmu. Seharusnya aku berhati-hati, dan mengikuti caramu kala itu: pelan-pelan, sesesap demi sesesap bukan malah meneguknya dalam jumlah banyak. Kamu tahu apa efek secangkir kopi yang kau buat itu? Tak cuma aku terluka, mataku benderang sepanjang hari hingga detik ini. Mungkin kafein, mungkin juga aroma kopi, atau mungkin juga entah berapa lama aku tidak minum kopi yang membuat cerita tentang kejadian kemarin tak sesederhana itu untuk dilupakan.

Kepada kamu orang asing, yang mungkin selamanya akan jadi asing buatku. Terima kasih atas kopimu. Ampas kopi kita sudah mengering. Biar kusimpan bagaimanapun, satu per satu bubuknya berterbangan jua. Apa mereka sampai padamu? Kalau ya, mungkin mereka akan bilang kalau aku akan lebih pelan-pelan lagi minum kopi, jika ada yang menawariku.

Kepada kamu orang asing, yang selamanya akan jadi asing buatku. Ketahuilah meski aku tidak suka kopi, tindakanmu kala itu menyingkirkan keenggananku. Bukankah yang kita lakukan selama ini lebih dari sekadar minum bercangkir-cangkir kopi? Aku menghabiskan sekian jam dalam hidupku yang beranjak 22 tahun ini denganmu, orang asing.

Kamu bukan penjaja kopi, bukan penjual kopi. Mungkin kamu hanya terlalu baik, punya banyak kopi dan cangkir untuk diberikan pada banyak orang. Sehingga bagimu menyuguhkan kopi untuk seseorang tak bisa dikatakan istimewa, ataupun tindakan serius. Kepada kamu orang asing, yang pasti selamanya akan jadi asing di hidupku. Akan kurelakan hari ini, ampas hitam yang mengering dan halus di telapak tanganku untuk ditiup angin. Mencari jalannya sendiri, menemukan rumahnya yang baru.

RRI Pontianak (Dkn)

Sumber Tulisan : http://logikarasa.com/kepada-seorang-asing-tentang-pelajaran-minum-kopi/