Breaking News

  • " World Ocean Day- PAPUA BARAT"
  • Sejarah Bento, Makanan Kotak Khas Jepang
  • Usal Usul Dan Perkembangan Rantang
  • Estcopato: Irama Anak Pantai Timur Papua
  • Hari Ini Dalam Sejarah: 10 Juni

Tibes Art, Kekuatan Yang Mempertahankan Seni Budaya Papua

Sahabat kreatif, Sabtu (17/06/2017) malam, tepatnya jam 20.20 WIT, studio Pro 2 RRI Manokwari dimeriahkan dengan kehadiran teman-teman dari Tibes Art, mengisi acara Talk Show Pro 2 Community diantaranya kakak Johnson Yenu (Pendiri Tibes Art) ditemani kakak Evelyn Upuya (Ketua), Kakak Ruben Epaa (Koordinator Musisi), kakak Petrus (Penata Tari) dan beberapa orang penari diantaranya Geisler, Veby Ap, Jenny, Putra Womsiwor dan Sula Sada.

Nama Tibes Art digunakan sejak bulan Juni 1987 meskipun grup seni ini sudah ada sebelumnya. Tibes Art sendiri merupakan singkatan dari Tikar Besi Art.

“Ceritanya pada waktu itu ketika para anggota Tibes Art selesai berlatih, mereka sering beristirahat beralaskan besi (bekas drem karat). Selain itu, filosofi dari nama Tibes Art yang mana "Tikar" melambangkan seni budaya dan "Besi" sebagai kekuatan sehingga Tibes Art diartikan sebagai kekuatan yang mempertahankan seni budaya”, kata kakak Johnson Yenu.

Pada awal berdirinya, Tibes Art beranggotakan sekitar 16 orang yang bertempat tinggal di sekitar lingkungan Jalan Serayu, Sanggeng. Kakak Johnson Yenu sendiri adalah salah seorang penari muda papua di tahun 1970an dan bergabung dengan grup seni Iawa.

Sebagai Koordinator Musisi, Kakak Ruben mengatakan bahwa musik yang biasa dipakai oleh Tibes Art merupakan musik yang diaransemen sendiri dan tidak terlalu terpaku dengan musik yang sudah ada. Pembuatan musiknya pun dilakukan secara bersama-sama dibawah koordinator utama.

Salah satu yang spesial dari Tibes Art adalah mereka membuat alat musik dari bambu dan membina anak-anak usia dini mulai usia 10 tahun untuk berlatih musik bambu. Alat musik dari bambu berbentuk seperti tabung dengan panjang 30Cm-150Cm. Pembuatan alat musik ini terinspirasi dari musik lokal papua dan dengan kreasi sendiri sehingga terciptalah alat musik bambu khas Tibes Art.

Tibes Art yang awalnya hanya grup tari berkembang menjadi sebuah Sanggar seni, yang tidak hanya menampilkan Tarian tetapi juga menggeluti dunia Fotografi terutama bergenre culture, Desain Busana Papua termasuk Desain Busana Pengantin Papua dll. Tari yang biasa ditampilkanpun beragam, mulai tari tradisional sampai dengan tari kreasi.

Pelatihan tarian dilakukan beberapa kali dalam seminggu dan penyusunan jadwal latihanpun disesuaikan dengan kesibukan para penari. Geis, seorang penari, menceritakan pengalamannya ketika diawal mulai berlatih merasakan sakit pada kakinya. Bahkan Jean yang bergabung di tahun 2014, pernah merasakan sakit pada waktu awal latihan sakit sampai susah jalan.

Dalam pembuatan sebuah materi tarian, Tibes Art pertama-tama mengecek kembali cerita-cerita dari para tua-tua adat. Setelah cerita-cerita ini sudah didapat maka dibuatlah konsep yang disesuaikan dengan cerita ini sehingga terciptalah sebuah tari. Proses inipun tidak memakan waktu yang lama. Kata Kakak Petrus,” Sebentar saja.”

Kakak Evelyn mengatakan bahwa Tibes Art yang pernah vakum dan aktif kembali di tahun 2014 sudah beberapa kali mengikuti iven, diantaranya pada Festival papua barat 2014 mewakili kab. Pegaf juara 2 pada kategori Tari Kreasi Baru. Tahun 2015 Festival Papua Barat mewakili Manokwari dan mendapatkan Juara 3 pada Tari Kreasi Baru dan Lagu Rakyat.

Puncaknya pada tahun 2016, Tibes Art menjadi Juara Umum Festival Papua Barat di Sorong beberapa kategori mendapatkan juara diantaranya Juara 1 Tari Kreasi Baru, Lagu Rakyat dan Body Painting. Ketua Sanggar, kakak Evelyn mengatakan prestasi yang menggembirakan ini membuat dirinya dan para personel Tibes Art sempat meneteskan air mata kebahagiaan karena merupakan sebuah prestasi yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Saat ini Tibes Art sedang dalam tahap mempersiapkan diri untuk perhelatan pada tanggal 8 juli 2017 nanti di Manokwari dan sebuah iven nasional mewakili Provinsi Papua Barat yakni Parade Tari Nusantara pada bulan Agustus 2017, yang mana keikutsertaan Tibes Art merupakan hasil seleksi dari seluruh sanggar seni yang ada di Papua Barat.

Tibes Art yang berhomebase di Jalan Serayu, belakang toko Sanggeng dengan contact person 082199087504 membuka kesempatan sebesar-besarnya kepada generasi muda yang ingin bergabung.

Saat ini Tibes Art bekerjasama JFM Manokwari (komunitas fotografi) dalam rangka mempromosikan sekaligus mendokumentasikan hasil kreasi sanggar Tibes Art. Dalam hal ini Tibes Art biasa mempersiapkan model dan busana terkini yang ingin dipromosikan.

Diakhir acara, Kakak Johnson berterima kasih untuk support semua pihak selama ini, semoga menjadi penyemangat untuk sama-sama menjaga eksistensi dari seni budaya Indonesia khusus Papua di Manokwari. Beliau yakin kita semua bisa menjaga, dan melesetrarikan seni budaya dan berusaha mengangkat seni budaya Papua ke mata dunia sehingga semakin dikenal.

Kakak Evelyn dan pentolan Tibes Artpun menyerukan agar generasi muda mencintai, menjaga dan melestarikan seni budaya Papua. Juga mengapresiasi bila ada anak muda Manokwari yang ingin bergabung bersama sanggar seni, utamanya bergabung bersama Tibes Art karena di sanggar seni generasi muda bisa belajar seni dan budaya sekaligus mendapatkan pengalaman dengan gratis. “Jika bukan kita yang menjaga maka suata saat seni budaya Papua akan hilang”, kata Geisler sekaligus menutup acara Pro 2 Community.

Pro 2 Community hari Sabtu (17/06/2017) dipandu oleh Meys Weyzer.

(AER)