Breaking News

  • Tips Maksimalkan THR Agar Keuangan Tak Jebol
  • Lapisan Es Puncak Jayawijaya Terancam Lenyap
  • Belajar Menjadi Pribadi Yang Tangguh
  • Kanker Bisa Disebabkan Dan Disembuhkan Oleh Gaya Hidup Anda
  • 4 Cara Agar Tetap Produktif Saat Berpuasa

Syahbilal Muhtadin " Bangkit Dan Hijrah Setelah Terjebak Hutang Miliyaran "

Beyoung Pontianak : Bisnis dibuka hanya karena nafsu untuk mendapatkan keuntungan materi semata, tanpa mengetahui ilmunya, kemungkinan besar yang terjadi pebisnis yang melakukannya akan mengalami kegagalan, kebangkrutan, bahkan menyisakan hutang. Jika tidak bisa bangkit dan hutang tidak terbayar, maka siap-siap untuk kehilangan aset berharga. Bahkan jika tidak kuat iman, bisa terjerumus ke dalam pergaulan negatif. Kisah tersebut adalah kejadian nyata yang pernah dialami oleh Syahbilal Muhtadin, owner Taraqi Group. Bilal, panggilan akrabnya, memang pernah mengalami kebangkrutan yang besar pada bisnisnya beberapa tahun yang lalu, namun semua kejadian tersebut kini menjadi pelajaran yang sangat berharga baginya. Jika dulu ia membuka bisnis hanya melihat keuntungan materi secara pribadi, maka sekarang semua usahanya diniatkan untuk membantu orang sebanyak mungkin. Jika dulu ketika ada masalah sedikit larinya ke dunia gemerlap, maka sekarang ia sudah hijrah, sedikit-sedikit selalu ingat pada Tuhan. Terjun di dunia entrepreneur bagi Bilal merupakan pilihan yang menyenangkan, meski penuh dengan tantangan. Dengan berbisnis ia merasa memiliki kebebasan waktu dan finansial, apalagi jika sudah membuat Stardart Operasional (SOP) yang baik. Bisnis bisa ditinggal, dan ownernya bisa jalan-jalan. Penghasilan juga bisa berlipat-lipat, sehingga omset dalam satu bulan dari bisnisnya bisa untuk menggaji karyawannya untuk satu tahun. “Kalau karyawan kan tidak, selain diperintah, gaji sebagai karyawan juga terbatas, kalau mau naik pun harus naik jabatan yang waktunya bisa lama. Kalau pedagan itu bebas, tidak terikat. Nabi kita saja juga seorang pedagang, bukan karyawan,” terang Bilal. Bilal memulai aktivitas bisnisnya diusia 18 tahun. Karena masih pemula dan tidak banyak mengerti ilmu bisnis, mindset Bilal untuk memulai bisnis saat itu adalah harus memiliki modal uang. Jika tidak memiliki uang sendiri, maka hutang menjadi solusi bagi Bilal. Sebelum mulai berbisnis, Bilal sempat bekerja sebagai karyawan di salah satu warung internet (warnet) di Pontianak. Namun hanya bertahan selama satu minggu. Selain itu ia juga sempat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, namun karena ayahnya mulai sakit-sakitan, ditambah uang untuk biaya kuliah tidak ada, bahkan harus berhutang, akhirnya Bilal memutuskan untuk keluar dari kampusnya. “Mungkin ada hikmahnya, jika saat itu saya punya duit untuk menyelesaikan kuliah, mungkin larinya saya sekarang ke PNS, karena keluarga besar juga banyak yang PNS,” ungkap Bilal. Karena Bilal merupakan anak paling bungsu, ia tentu merasa bebas dan tidak ingin diatur. Selepas bekerja dari Warnet, ada salah satu temannya yang mengajak Bilal untuk bergabung di Multi Level Marketing (MLM). Di MLM, Bilal merasa banyak mendapatkan ilmu tentang bisnis. “Saya ditempa mengenai teknik negosiasi, mencari orang, mengatur waktu, dan itu bagus menurut saya,” jelas Bilal yang saat itu aktif pada perusahaan MLM yang berbasis di Indonesia sendiri. Sekitar dua tahun Bilal aktif menjalani MLM. Namun seiring berjalannya waktu, Bilal mulai menemukan ketidakcocokan, karena ia merasa perusahaan tersebut telah banyak melakukan kebohongan kepada para anggotanya. “Yang katanya Emas, ternyata bukan, yang katanya gedung mewah itu milik perusahaan, ternyata hanya sewa. Udah gitu, janji-janji kerjasama dengan banyak pihak rupanya tidak ada,” tutur alumnus SMA N 3 Pontianak tersebut. Meski merasa telah dibohongi, Bilal termasuk salah satu agensi termuda dan tercepat yang mampu mencapai prestasi. Yang awalnya tidak memiliki motor, dari MLM tersebut Bilal berhasil mendapatkan reward sebuah sepeda motor. “Pokoknya jaringan saya waktu itu terbesar di Mempawah. Namun karena banyak kebohongan, dan saya selalu pakai hati, MLM saya stop. Semua anggota dibawah saya, saya datangi. Saya katakan kalau ini banyak kebohongan, jika ingin lanjut silahkan. Tapi akhirnya stop semua,” tutur Bilal. Setelah tidak aktif lagi di MLM, Bilal pun tidak memiliki aktivitas dan bisnis lagi. Karena tidak memiliki kesibukan, Bilal mengikuti ayahnya yang saat itu bertugas menjadi komite di salah satu Sekolah Dasar di Pontianak. Kebetulan SD tersebut sedang membutuhkan seperangkat komputer, Ayahnya pun menyuruh Bilal untuk mencarikan komputer langsung ke agennya. Setelah menemukan agennya, Bilal kemudian tahu jika harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibanding di pasaran. “Kalau di pasar harganya 4 juta lebih, di agen hanya 3 juta lebih. Jadi bisa dapat margin satu jutaan kalau kita bisa jual,” jelas Bilal yang mulai berhitung. ( doddyJ & Umam )